Page

Senin, 16 Mei 2011

Kord_Gitar_Dasar_A_-_G.pdf - 4shared.com - berbagi-pakai dokumen - unduh - Kord_Gitar_Dasar_A_-_G.pdf

Kord_Gitar_Dasar_A_-_G.pdf - 4shared.com - berbagi-pakai dokumen - unduh - <a href="http://www.4shared.com/document/XmCOXtp8/Kord_Gitar_Dasar_A_-_G.html" target="_blank">Kord_Gitar_Dasar_A_-_G.pdf</a>

Jumat, 29 April 2011

JADWAL PERTANDINGAN PERSEBAYA 1927 DI LIGA PRIMER INDONESIA 2011...

  • SENIN, 10 JANUARI 2011... PERSEBAYA vs BANDUNG FC.
  • MINGGU, 23 JANUARI 2011... TANGERANG WOLVES vs PERSEBAYA.
  • SABTU, 29 JANUARI 2011... PERSEBAYA vs BOGOR RAYA FC.
  • SABTU, 5 FEBRUARI 2011... KABAU PADANG vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 20 FEBRUARI 2011... BALI DEVATA vs PERSEBAYA.
  • MINGGU,27 FEBRUARI 2011...PERSEBAYA vs CENDRAWASIH PAPUA.
  • MINGGU, 6 MARET 2011... MEDAN BINTANG vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 13 MARET 2011... PERSEBAYA vs ACEH UNITED.
  • MINGGU, 20 MARET 2011... REAL MATARAM vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 27 MARET 2011... PERSEBAYA vs MANADO UNITED.
  • MINGGU, 3 APRIL 2011... MEDAN CHIEFS vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 10 APRIL 2011... PERSEBAYA vs JAKARTA 1928 FC.
  • SABTU, 16 APRIL 2011... SEMARANG UNITED vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 24 APRIL 2011... PS MAKASSAR vs PERSEBAYA.
  • SABTU, 30 APRIL 2011... PERSEBAYA vs PERSIBO.
  • MINGGU, 8 MEI 2011... SOLO FC vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 15 MEI 2011... PERSEBAYA vs PERSEMA.
  • MINGGU,22 MEI 2011... BATAVIA UNION vs PERSEBAYA.
  • ---

  • SABTU, 11 JUNI 2011... PERSEBAYA vs KABAU PADANG.
  • SABTU, 18 JUNI 2011... BOGOR RAYA FC vs PERSEBAYA.
  • SABTU, 25 JUNI 2011... PERSEBAYA vs TANGERANG WOLFES.
  • SABTU, 2 JULI 2011... BANDUNG FC vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 17 JULI 2011... PERSEBAYA vs BALI DEVATA.
  • SABTU, 23 JULI 2011... CENDRAWASIH PAPUA vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 31 JULI 2011... PERSEBAYA vs MEDAN BINTANG.
  • SABTU, 10 SEPTEMBER 2011... ACEH UNITED vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 18 SEPTEMBER 2011... PERSEBAYA vs REAL MATARAM.
  • MINGGU, 25 SEPTEMBER 2011... MANADO UNITED vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 2 OKTOBER 2011... PERSEBAYA vs MEDAN CHIEFS.
  • MINGGU, 9 OKTOBER 2011... JAKARTA 1928 FC vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 16 OKTOBER 2011... PERSEBAYA vs SEMARANG UNITED.
  • MINGGU, 23 OKTOBER 2011... PERSEBAYA vs PS MAKASSAR.
  • MINGGU, 30 OKTOBER 2011... PERSIBO vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 6 NOVEMBER 2011... PERSEBAYA vs SOLO FC.
  • MINGGU, 13 NOVEMBER 2011... PERSEMA vs PERSEBAYA.
  • MINGGU, 19 NOVEMBER 2011... PERSEBAYA vs BATAVIA UNION.



BONEK AKAN SELALU ADA,BERSAMA,& BERSATU MENDUKUNG PERSEBAYA SELAMANYA...
BONEK PERSEBAYA 100% FAIR PLAY & CINTA DAMAI ANTI ANARKI...

BONEK BONITA(BONEK WANITA) PERSEBAYA...

1 HATI,,,BONEK PERSEBAYA...
SALAM 1 NYALI,,,WANI !!! WANI BONDHO & WANI NEKAD,,,BERANI UNTUK SELALU MENJADI YANG LEBIH BAIK...

Senin, 25 April 2011

SEJARAH TERBENTUKNYA BONEK

Bonek dikenal sejak 1990-an. Bonek atau bondo nekat untuk menjuluki para suporter sepak bola yang tidak memiliki bekal atua modal (bondho). Namun mereka tak surut (nekat) untuk membela tim kesayangannya.
Perilaku bonek sebenarnya warisan turun-temurun yang berlangsung cukup lama. Perilaku ini bermigrasi dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Brantas yang membentang dari Kediri sampai Surabaya.
Bentangan wilayah inilah yang kemudian dikenal sebagai ekologi budaya Arek. Cakupan wilayahnya membentang dari pesisir utara di Surabaya hingga ke daerah pedalaman selatan, daerah Malang. Wilayah ini tergolong paling pesat perkembangan ekonominya, 49 persen aktivitas ekonomi Jatim ada di sini. Tak heran bila arus migrasi dari wilayah lain banyak masuk ke kawasan ini.
Bentangan ini kemudian oleh budayawan Ayu Sutarto disebut salah satu sub kultur yang ada di Jawa Timur, yaitu subkultur Arek. Arek sebagai salah satu kekayaan kultur Jawa Timur memiliki karakteristik yang keras khas pesisiran.
Karakter keras tersebut pun lebih pada sikap pantang menyerah, ngeyel, dan keteguhan mempertahankan pendapat serta prinsip sebagai wujud penghargaan tertinggi mereka terhadap harga diri.
Karena banyak bersentuhan dengan pendatang dari latar budaya, mereka membentuk budaya yang khas, budaya komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, dan terbuka terhadap perubahan.
Karakter semacam ini dijelaskan oleh Autar Abdillah sebagai perpaduan hegemoni Mataram dan kerasnya alam yang membentuk budaya Arek. Autar memaparkan itu dalam tesisnya berjudul Hegemoni Mataram Terhadap Budaya Arek. Menurut Autar, tantangan alam yang keras selama lebih dari lima abad membuat mental dan karakter generasi Arek praktis menjadi begitu teruji.
Budaya Arek, menurut dosen Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, mengalami proses pembentukan yang panjang. Proses pembentukan itu bisa ditelusuri lewat buku Von Faber berjudul Er Werd Een Stad Geboren (1953). Di dalamnya terdapat pembabakan proses terbentuknya budaya Arek yang didasarkan pada peta yang dibuat pemerintah koloni sejak abad ke-9.
Setidaknya ada tiga peta yang telah dibuat, yakni abad ke-9, abad ke-10 dan abad ke-13. Ketiga peta ini merupakan sumber penting untuk memetakan perkembangan kondisi Surabaya, berikut karakter masyarakatnya.
Lebih jauh Autar menceritakan, sebelum seperti sekarang, kondisi Surabaya yang dulu, tepatnya di abad ke-4, masih berupa gugusan pulau kecil. Beberapa pulau yang kini menjadi kampung seperti Wonokromo, Ngasem, Rungkut, Bungkul, dan Bagong merupakan bukti bahwa sebenarnya kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu tidak bisa seperti sekarang yang dengan mudah bepergian dari satu kawasan ke kawasan lain.
Dominasi peraturan serta konvensi Majapahit dengan doktrin Hindu-Jawanya yang pada masa itu memang mengakar begitu kuat membuat munculnya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran. Itulah latar belakang akhirnya dibangun sebuah penjara yang berada di kawasan Domas, sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Bungkul dan Dadungan, meskipun kini baik kawasan Domas maupun Dadungan sudah lenyap, entah benar-benar lenyap atau berganti nama. Sedangkan kawasan Bungkul tetap ada hingga kini, hanya saja semakin bertambah luas wilayahnya.
Penjara Domas tersebut terbagai menjadi 8 tingkatan, mulai tingkatan awal yang merupakan tempat bagi narapidana yang sama sekali belum bisa dididik hingga menjadi masyarakat yang taat. Sampai pada tingkat terakhir yang merupakan tempat penggodokan atau pengayaan bagi narapidana yang sudah mulai bisa dikembalikan ke jalan yang sesuai dengan aturan yang ada.
Penjara Domas tersebut ditengarai merupakan penjara pertama yang menggunakan sistem hukuman kurung. Saking kerasnya, di penjara bagian awal, kecil kemungkinan bagi narapidana untuk bisa bertahan hidup.
Betapa tidak, dalam penjara yang terletak di pulau kecil sebelah utara Domas, di mana pulau tersebut akan tenggelam jika air laut sedang pasang. ”Jadi tidak mungkin narapidana yang dipenjara di sana bisa selamat,” kisah Autar.
Meski demikian, masih ada juga narapidana yang bisa selamat dari kepungan air laut yang pasang. Narapidana yang bisa selamat itu kemudian terus naik hingga ke tingkat paling akhir, untuk kemudian dilepas kembali ke masyarakat.
Narapidana yang berhasil lolos dari penjara bagian awal tersebut bisa dikatakan merupakan narapidana-narapidana yang memiliki semacam kesaktian, yang kebanyakan setelah menempuh kedelapan bagian penjara Domas. Mereka kemudian menempati wilayah Bungkul. Inilah yang kemudian membuat Bungkul menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesaktian.
Kerasnya kehidupan di Domas memang ditengarai yang memicu karakter keras dan pantang menyerah dari masyarakat Surabaya yang memang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.
Belum lagi ditambah tantangan alam yang sepertinya tidak pernah bersahabat dengan masyarakat waktu itu. Dalam kurun waktu lebih dari 431 tahun, mereka harus mengalami dampak dari 22 kali letusan Gunung Kelud. Lahar dingin yang terus membanjiri sungai, ditambah hujan abu yang begitu sering terjadi, membuat hidup mereka semakin susah.
Kesusahan hidup inilah yang secara lebih dari empat abad menempa dan membentuk mereka menjadi manusia yang kuat, tidak pantang menyerah, dan loyal pada tempat tinggalnya. Hingga akhirnya endapan lahar dingin Gunung Kelud semakin mempersatukan pulau-pulau yang terpisah itu menjadi satu daratan, dengan tambahan beberapa reklamasi yang dilakukan sendiri oleh warga.
”Meski susah, mereka tetap bertahan di tempat tinggal mereka,” ungkap Autar.
Hingga akhirnya masuklah invasi Mataram di tahun 1622-1625. Invasi ini setidaknya membawa pengaruh pada masyarakat, baik secara struktural, maupun secara kultural. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam aspek kultural, dalam hal ini adalah bahasa dan tata hubungan masyarakat.
Kawasan sekitar sungai Brantas yang semula berkarakter egaliter, tanpa kelas, apa adanya, yang bisa dilihat dari bahasa yang mereka pakai  yang juga merupakan bahasa Jawa ngoko, bahasa yang tidak membedakan kelas, berubah total setelah masuknya Mataram.
Invasi Mataram kemudian mengubah kebiasaan mereka. Bahasa yang mereka pakai pun perlahan terpengaruh oleh bahasa khas Mataraman, yang lebih halus dan memiliki strata bahasa yang sangat terstruktur.
Hal ini disebabkan hegemoni yang dilakukan Mataram dengan menempatkan ‘raja-raja kecil’ untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di sekitar sungai Brantas.
Ini dibenarkan oleh Akhudiat. Budayawan asal Surabaya ini mengisahkan bahwa setelah Majapahit ditaklukkan Mataram di masa pemerintahan Pangeran Pekik, praktis Mataram pun kemudian menguasai Surabaya dan daerah lain di sekitar sungai Brantas. Hingga akhirnya Surabaya pun saat itu dikuasai Unggul Sawelas, sebelas pemimpin Mataram.
Berbeda dengan wilayah yang berada di sisi barat sungai Brantas, wilayah di sisi sebelah timur sungai Brantas memang cenderung lebih susah ditaklukkan. Kebanyakan masyarakat di wilayah ini merupakan orang-orang buangan yang memiliki kekuatan baik fisik maupun metafisik.
Dengan modal inilah kemudian karakter Arek yang sudah tertanam dalam diri mereka dapat ’sedikit’ dipertahankan. Hingga akhirnya sampai kini masih bisa setia dilestarikan oleh masyarakat di daerah pesisir sungai Brantas, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Malang, Kediri, dan Blitar.
”Maka muncullah budaya Arek yang meliputi wilayah dari Surabaya hingga Kediri dan Blitar,” ungkap Autar.
Memang, khusus Kediri dan Blitar, tergolong kasus yang unik. Betapa tidak, dua kota ini pada dasarnya memiliki dua kultur yang bertolak belakang. Meski bahasa dan dialek yang mereka gunakan menganut bahasa khas Mataraman yang halus dan berstrata, namun karakter asli beberapa dari mereka, seperti masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud dan pesisir sungai Brantas, tidak dapat dipungkiri, benar-benar khas Arek. Pantang menyerah, ngeyel, dan begitu teguh memegang prinsip serta pendapatnya.
”Khas Majapahitan, yang selalu merasa lebih unggul dari kaum mana pun,” tegas Akhudiat.
Jadi, falsafah bonek, yakni bondo nekat sebenarnya merupakan sebuah wajah asli dari masyarakat pesisir sungai Brantas, khususnya Surabaya.
Hingga tidak bisa dipungkiri, semangat pantang menyerah dan keteguhan memegang prinsip dan harga diri mereka merupakan faktor utama pecahnya perang 10 November 1945 yang ditengarai merupakan tonggak awal munculnya istilah Arek.
Oleh karena itulah, perang revolusi 10 November 1945 bukanlah tonggak awal, melainkan lebih merupakan titik kulminasi dari munculnya karakter dan budaya Arek tersebut. ”Gara-gara kekerasan kepala masyarakat Surabaya yang tidak mau mematuhi ultimatum Mansergh, pecahlah perang besar 10 November 1945,” pungkas Autar.

BONEK LIAR









Aku Bangga Menjadi Bonek.

Aku bangga menjadi bonek.





Memang bonek bukanlah suporter terbaik, suporter yang dikenal dengan cinta damai dan kreatifitasnya maupun apalah. Tapi bonek adalah suporter yang mencoba ingin jadi lebih baik yang dari tahun ke tahun. Bonek adalah bonek, bukan suporter yang mengaku oknum. Bukan suporter  yang kalau anarkis selalu mengatasnamakan oknum suporter, bukannya meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


Bonek anarkis, bonek bikin ulah, bonek menjarah pedagang. Itulah headline yang slalu menghiasi media massa saat bonek tur ke luar kota. Media massa bagaikan ketiban rejeki kalau bonek lagi tur ke luar kota. Bagaikan tanpa dikomando mereka berlomba-lomba memberitakan perjalanan bonek, meskipun gak sesuai dengan fakta yang terjadi yang penting dengan mengarang indah dan laku di pasaran. Masih terlintas jelas 24 Januari 2010 Bonek tur bandung diserang di solo. Jelas-jelas pada media massa menayangkan bonek yang kala itu nggandol kereta diserang warga, bukan bonek yang menyerang, tapi dalam headline nya Bonek Anarkis. Anarkis darimana? Meskipun dalam pemberitaan gak sesuai dengan fakta, yang penting laku keraslah beritanya.



Coba kita bandingkan berpuluh-puluh ribu aremania tur jakarta pada saat akhir kompetisi ISL 2010 Persija vs Arema. Adakah pemberitaan aremania yang mencolok? Seakan-akan ditutupi. Atau mungkin juga media massa takut beritanya gak laku keras? Padahal dalam kejadiaan itu aremania sempat ricuh dalam perjalan pulang pergi ke jakarta.

Kita putar memori kembali saat pelita karawang vs persebaya. Bonek yang datang ke stadion singaperbangsa karawang diserang oleh oknum suporter tuan rumah, dan besok paginya muncul diberitakan di redaksi berita olahraga ternama tentang bonek menyerang suporter tuan rumahDengan kecanggihan teknologi saya mengajak teman-teman bonek yang ada di grup facebook saya, untuk menyebarkan ke grup yang laen untuk mengirim email protes ke redaksi tersebut. Alhamdulillah 2-3 hari setelah email tersebut dikirim, pihak redaksi meminta maaf kepada pengurus bonek.

Dan di sini saya mengajak kepada teman-teman bonek se jagat raya, seandainya nanti ada pemberitaan miring tentang bonek, mari kita berlomba-lomba kirim email protes kepada mereka agar nama bonek tidak semakin tercoreng gara-gara pemberitaan miring. Kita manfaatkan fasilitas yang ada saat ini, teknologi udah maju kawan.

Kembali ke uneg-uneg yang ngeganjel di dada saya. Sebelumnya saya pernah kuliah di malang, dan sedikit banyak saya mengerti perbedaan bonek dan seterunya aremania. Pada umumnya Bonek dan Aremania sama, sama-sama suporter fanatik, suporter terbesar. Di Bonek ada suporter cinta damai, di aremania juga ada suporter cinta damai, di bonek ada suporter garis keras bonek '89, di aremania ada suporter sirag sarek '87, di bonek ada yang resek, di aremania juga ada yang resek. Intinya gak semuanya bonek itu resek, tapi juga masih cinta damai. Gak semuanya aremania cinta damai tapi masih juga aremania resek.

Tapi di sini perbedaannya, bonek yang kala tur berbuat anarkis, menjarah. Langsung dinilai bonek itu anarkis, ingat gak semuanya bonek itu anarkis. Masih inget bulan ramadhan kemarin? Kelompok-kelompok suporter bonek yang ada di surabaya, sidoarjo, gresik, pasuruan, maupun jember dan daerah-daerah lain yang belum saya sebutkan membagikan ta'jil ke pengendara umum. Tapi di sini yang saya banggakan, ketika bonek dicaci maki saat melakukan tindakan anarkis. Mereka menerimanya dengan lapang dada, bukan malah munafik menduduh oknum-oknum yang gak bertanggung jawab melakukanya.Bukan malah mencari-cari alasan lain agar namanya tidak jelek di mata masyarakat yang mengurangi titel "suporter cinta damai"nya.




Kalau aremania? anda pasti bisa menilainya sendirilah. tidak perlu saya jelaskan di sini. Cukup menengok tragedi pembakaran stadion wilis madiun 2005, stadion brawijaya kediri, konvoian aremania juara ISL 2010, dan yang terakhir perjalanan pulang dari tur solo di stasiun kediri. Melempari warga-warga sekitar stasiun yang gak bersalah. Tapi maukah mereka mengakui perbuatan mereka??

Dan juga selama saya tinggal di malang, saya sedikit banyak menemukan 100% asli kera ngalam yang berdomisili mendukung persebaya. Ketika saya bertanya kepada mereka sejak kapan mendukung persebaya. Mereka menjadi Bonek udah dari kecil, udah diwarisi dari bapak-bapaknya. Dulu memang banyak bonek yang berasal dari malang, tapi sekarang udah gak sebanyak dulu lagi karena mereka udah mempunyai tim daerahnya sendiri arema.

Saya mencoba tanya lebih jauh mengapa mereka tetap setia mendukung persebaya, padahal jelas-jelas sekarang arema lagi ada di puncak. Mereka bilang tim ada di atas dan di bawah itu wajar, seperti roda berputar. Mereka sudah terlalu banyak mengerti kelebihan dan kekurangan bonek dan juga aremania, ternyata bonek dan aremania sama saja. Yang paling menonjol dan membedakan bonek dari aremania adalah persatuan suporter bonek, kesetia kawanan. Akan terasa jika pertandingan di luar kota. Bonek-bonek berbondong-bondong berangkat ke kota tujuan untuk mendukung persebaya dengan bekal seadanya, meskipun berbekal seadanya mereka tetap bersatu. Ada yang membawa duit lebih, mereka malah ikut nemenin temen mereka yang gak punya uang untuk nggandol truk maupun kereta. Seperti contoh misal bonek dari surabaya di tengah perjalanan bertemu dengan bonek dari pasuruan, mereka dengan cepat akrabnya langsung bersatu untuk mencapai kota tujuan. Yang penting sampai di kota tujuan dan mendukung tim kesayangan Persebaya. Jangan heran kalau di tengah perjalanan bertemu dengan rombongan bonek yang makan nasi bungkus dimakan rame-rame. Itu karena mereka merasakan suka duka ditanggung bersama.



Berbeda dengan aremania, saat tur ke luar kota. Mereka malah saling berlomba mempercantik korwil masing-masing, membanggakan korwil masing-masing. Ada yang naek bis, kereta, mobil pribadi dll. Kalaupun di jalan bertemu dengan aremania lain yang sedang tidak mempunyai duit, mereka acuh tak acuh. Gak peduli. Mereka berpendapat, salah sendiri tur modal nekat, gak modal duit. Saya sendiri juga mempunyai teman aremania, dia bercerita saat itu pulang dari tur lamongan persik vs arema. Dia dan teman-temannya pulang nyari bis umum gak nemu, bareng sama rombongan aremania yang naik bis dilarang naik.Bukan rahasia lagi, kalau di stadion kanjuruhan maupun di mana saja terjadi persaingan antar korwil aremania di malang.

Saling mengunggulkan yang terbaik. Saling tawuran sesama aremania. Maka dari fakta di ataslah, bonek-bonek asli malang bangga menjadi bonek. bangga mendukung persebaya. bonek ingat tujuan menjadi suporter, mendukung tim, bukan berlomba menjadi suporter terbaik.

Oh iya, sempat terpikir dalam pikiran saya. Seharusnya bonek itu dijadikan alat pemersatu suporter jatim. Mengapa tidak? Kita pasti tau jatim identik dengan boneknya. Ada Bonek dari surabaya, sidoarjo, pasuruan, lumajang, jember, banyuwangi, blitar, mojokerto, kediri, nganjuk, jombang, madiun, magetan, lamongan, gresik, bojonegoro, ponorogo, malang, madura dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan.Rata-rata daerah-daerah tersebut mempunyai tim daerah masing-masing. Kita ambil contoh laskar sakera pendukung persekabpas dan boromania pendukung persibo bojonegoro. Rata-rata mereka semua adalah embrio bonek, karena rata-rata dulu mereka adalah bonek maka terjalinlah persatuan suporter laskar sakera dan boromania. Bagaimana seandainya kalo sakera, jinggomania, mp mania, the madman/blue force, persikmania, psbi mania, deltamania, bledugmania, LA mania, ultrasmania, boromania, gengster, laros dll yang gak bisa saya sebutin. Berpijak kepada dulu mereka terlahir dari bonek. Ah semoga suatu saat bonek bukan hanya alat pemersatu suporter jatim, tapi suporter se indonesia.


TERUS BERBENAH DIRI DULUR-DULURKU BONEK YANG ADA DI ALAM SEMESTA INI, BUKTIKAN KITA BISA MENJADI LEBIH BAIK !!! TAK PERLU MENJADI TERBAIK KALO ITU HANYA MUNAFIK

Aku banga menjadi bonek . . .



Kamis, 21 April 2011




Bondan Prakoso
Bondan Prakoso
Laki-Laki
Islam
08 Mei 1984

Biografi :

PERSONAL

Bondan Prakoso adalah salah satu penyanyi dan musikus Indonesia yang dikenal publik sebagai penyanyi juga pemain bass handal. Pria berumur 26 tahun ini adalah anak ketiga dari pasangan Lili Yulianingsih dan Sisco Batara yang dilahirkan pada 8 Mei 1984.

Selain karir bermusik yang dilakoninya sejak kecil, Bondan juga memiliki ketertarikan pada Sastra Belanda, yang ditekuninya di Universitas Indonesia pada program D3 Sastra Belanda. Kelulusannya yang gemilang juga membuktikan bahwa Bondan juga memiliki kehidupan pribadi yang cukup baik selain perannya sebagai salah satu selebriti Indonesia.

Pada 17 Desember 2007, Bondan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Margareth atau yang lebih dikenal sebagai Margie di Restoran Cibintung, Ciputat, Tangerang. Mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan 17 gram emas diberikan kepada wanita beruntung ini untuk memulai perkawinan di usia muda mereka.

KARIR

Awal karir sebagai penyanyi cilil di era 80-90an, album perdana yang berjudul Si Lumba-lumba yang membuat Bondan dikenal publik Indonesia. Selama 1988-1995, Bondan cilik menelurkan 8 album anak-anak.

Di masa remajanya, yaitu pada tahun 199, Bondan membentuk sebuah band yang bernama Funky Kopral. Bakat bermusik yang dimiliki Bondan sejak kecil dituangkan dalam perannya sebagai pembetot bass di band beraliran rock-funk ini. Tiga buah album sempat diluncurkan oleh Funky Kopral, yaitu Funchopat pada 1999, Funkadelic Rhytm and Distortion pada 2000, juga Misteri Cinta yang merupakan hasil kolaborasi dengan musisi kawakan Indonesia, Setiawan Djodi pada 2003.

Album kedua pada karir musik Bondan bersama Funky Kopral dianugerahi penghargaan sebagai Group Alternatif Terbaik pada AMI Sharp Awards 2001, dengan hits single yang cukup kontroversial berjudul Keroncong Protol. Album ketiga dengan hits single Tokek juga menuahkan hasil yang gemilang sebagai Kolaborasi Rock Terbaik pada AMI Sharp Awards 2003.

Setelah kesuksesan 3 album yang cukup gemilang dengan Funky Kopral, band ini bubar, dan pada tahun 2005 Bondan membentuk band baru dengan genre yang berbeda, yaitu Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Band dengan aliran yang cukup menantang ini bernama Bondan Prakoso dan Fade 2 Black, yang menggabungkan kecemerlangan bermusik Bondan dengan tiga orang rapper, yaitu Titz, Santoz, dan Lezzano. Lagi-lagi penghargaan AMI Sharp Awards 2008 berhasil disabetnya sebagai Group Rap Terbaik.

Bakat dan karir pribadi Bondan sebagai seorang bassist pun dibuktikannya dengan pemecahan rekor MURI untuk penghargaan Penampilan Bassist terbanyak dalam satu panggung, yang digelar pada tahun 2006 bersama bassist ternama Indonesia seperti Thomas GIGI, Rindra Padi, Bongky BIP, Adam Sheila On 7, Ronny Cokelat, Nissa Omellete, dan lainnya.

DISKOGRAFI
* Solo
8 buah album anak-anak (1988-1995)

* Funky Kopral sebagai Bassist dan Music Producer
Funchopat (1999)
Funkadelic Rhythm And Distortion (2000)
Misteri Cinta (kolaborasi dengan Setiawan Djodi;dirilis 2003)

* Bondan Prakoso & Fade 2 Black sebagai Producer, Composer, Arranger, Singer, Bass&Guitar
Respect (2005)
Unity (2007)
For All (2010)